May
31
2008
Deg!
Mendadak jantung berhenti, hitungan ke sepuluh aku mati.
Sosokku terjatuh, tergeletak di lantai, ruh bergegas berdiri, melihatmu tak jauh dari tubuhku. Petugas kesehatan menandu, membawa badan malang itu pergi. Tanganmu melambai, wajahmu tertawa, menertawakan lebih keras. Ruhku melihatmu dan mencoba meraih jasad tubuh yang telah mati dingin untuk melambai juga ke arahmu. Namun badan itu semakin dingin, ia tak mau lagi bangun. Engkau masih tertawa melambai dan aku bisa melihat jelas jemarimu yang halus meruncing di ujungnya, tubuh itu di bawa ke dalam ambulan dan engkau masih tertawa…
31 Mei 2008
Satu tangan di kantong, elle shoes, kemeja kantor yang pake logo itu,, aduh! Next Long Pant, hilir mudik di depan ruangan VIP rumah sakit, semoga kamu cepat sembuh saudaraku.
2 comments | posted in Uncategorized
May
31
2008
Tulisan besar Arya Duta Hotel di langit barat. Membayangkan hotel tersebut pikiran merambat ke masa lalu di mana survei hotel menjadi sebuah rutinitas yang dilakukan hampir setiap bulan akibat long distance relationship. Bau kamar hotel sangat khas, aku takkan memilih ruangan yang bermatras tebal jika itu bukan hotel berbintang lima, bisa jadi hanya divacuum cleaner asal-asalan bahkan mungkin cuma satu minggu sekali. Aku juga takkan memilih kamar yang toiletnya tak nyaman. Kamar mandi bersih dan humanis akan langsung memberikan aura menyenangkan dan merupakan jaminan tidur lelap sepanjang malam.
Di depan pintu ruang VIP kancing baju kurapikan . Kancing bertuliskan Elle pink muda, bergaris putih di tengahnya, jemari dengan cergas memasukkan kembali ke tempatnya kemudian dengan berjalan elegan melewati deretan wajah-wajah familiar eselon satu. Di seberangnya terdapat pejabat yang di bahunya banyak papan-papan kecil bergaris (menandakan mereka sudah sedemikian-demikian pangkatnya) mengangguk tersenyum…, dan basi! Aku menemukanmu lagi! Namun mengapa memakai seragam TNI? Wajah itu kembali datang mengembun di atas kepala, mengawang-awang, terbang mengelilingi mata, wajah kepala rambut tubuh sampai ke ujung jari. Tanganmu meraih tanganku “Aku Wiranggi, panggil Anggi”. Tapi kenapa namamu beda? Deg aku mati lagi! Sama sakitnya dengan mati-mati sebelumnya.
Di Arya Duta, dengan kancing baju teratasku yang terbuka tertutup, kamu menembus ruang waktu di wajah seseorang yang tak kukenal.
30 Mei 2008
Kemeja Elle, Mariella Burani parfum house of guerlain Perancis, kaos kaki kependekan, pikiran buntu mengingat kenangan. Bumm! Aku melempar bom di dalam pikiran, meredam perasaan yang bergejolak.
Comments Off | posted in Uncategorized
May
29
2008
Aku menyayangimu dalam ketidakbiasaan yang tak pernah kubiasakan, dalam ketidaktahuan yang aku tidak tahu, dalam keinginan yang aku tidak ingin, ketika semua yang berjalan menjadi diam tak berjalan, ketika yang sedang kutapaki tak menunjukkan jalan setapak yang tertapaki. Aku menyanyangimu di saat seluruh jiwaku hanya tertumpu padanya, hingga tumpuan tersebut menjadi tak tertumpu lagi.
Aku semakin bingung mencintai ketika semuanya membingungkan secara kaku dan rikuh, di saat menjadi gugu dan gagu, dimulai dengan ego dan ragu, lalu berhenti di saat ketulusanmu tersuguhkan. Aku semakin tersadar dengan bias yang tak jelas, pandangan kabur yang mengaburi, kelakuan tabu yang menjadi tak tabu, komitmen palsu yang kemudian menjadi basi dan tak terkomitmen lagi.
Aku akhirnya menyayangi dua hal, yang biasa dan tak terbiasa dengan kebiasaan.
Aku diam di dahan…menatap kupu-kupu menghinggapi setiap dedunan, menunggu kaki kecilnya singgah di kelopak tubuhku yang terbuka.
29 Mei 2008
Banana milkshake, Snowman, Mustang, Movie Script yang terabaikan, junky food yang rasanya menjengkelkan, aku heran mengapa banyak yang menyukainya. Wueh, mual!
2 comments | posted in Uncategorized
May
29
2008
Katanya hidup yang tak pernah dipertaruhkan takkan pernah dimenangkan, ini bukan meja judikan? Atau memang kita lahir terpaksa untuk berjudi. Katanya lagi hidup sebaiknya menanam kemudian memanen, kalau yang ditanam ketidaksetiaan, yang dipanen hanyalah kehancuran hubungan buat apa? Jika yang ditanam sebuah pertaruhan apakah yang dipanen pasti kemenangan? Kemenangan siapa?
Katanya hidup pengorbanan, siapa yang mengorbankan dan siapa yang akan menjadi korban, karena aku tak mau menjadi mangsa dari tumbal siapa aja atau menumbal siapa saja. Bukankah lebih baik menghadiahkan hidup dengan menggembirakan hati siapa saja, menyejukkan perasaan setiap yang bernyawa dan tidak bernyawa, mulai dari semut kecil hingga sebuah galaksi.
Katanya tidak akan kemana-mana, katanya tidak akan pergi sejauh yang kamu mau, katanya akan setia, katanya akan sabar, katanya dunia kecil, katanya kalo kaki ditembak 44 Magnum handgun itu tidak sakit, katanya terjatuh itu perlu, katanya akan saling menjaga, katanya takkan saling menyakiti, katanya hidup tak perlu ribet, katanya akan saling memaafkan, katanya ikut amazing race, katanya akan kuliah S-2 katanya akan menyusuri Mekong, katanya mau mengikuti Obama’s campaign. Ah palsu!
29 Mei 2008
Fox Crime, Al Jazeera, Hujan tidak basah, tamu berdatangan silih berganti, hectic, break hanya ketika sholat tiba. Bauku Floral Victoria Secret.
2 comments | posted in Uncategorized
May
29
2008
Dug dug dug ketika hujan jatuh di atas atap berbahan semi plastik sintetis, suara yang dimunculkan tak lagi tik tik tik. Rrrr rrr rrr ketika air conditioner bertenaga 300 watt muncul pertama kali mengalahkan para energy sucker lain, nyaris hanya gemerisik tenaga angin. Gha gha gha ketika segukan tawa berubah menjadi sst sst sst bisik meneduhkan. Kesadaran mendengarkan suara-suara memunculkan nuansa tentram.
Di ruangan gubernur detak waktu berjalan cepat, delapan mata mengupas hal-hal penting. Lalu beliau mengomentari Vertu. ” Barang mahal tak selamanya menjamin komunikasi akan selalu lancar, semua tergantung signal pemancar yang disiapkan oleh provider.” Pipi kanan dan matanya terangkat ke atas, pasrah memandang Titanium Vertu.
Bayangan Vertu Fotress, Vertu Diamond, Vertu Concierge, Vertu Constellation datang dan pergi seiring potongan Lupis yang menghilang dari piring. Jiwa berkata-kata pada Provider-ku…”Ya Allah izinkan komunikasiku lancar pada siapa saja, terutama orang-orang terkasih yang merasa tersakiti…”
28 Mei 2008
Paviliun Diponegoro, Lt.8. Breakfast VIP, bauku Davidoff Coolwater Wave. Perempuan pintar berkerudung itu mengagumkan.
2 comments | posted in Uncategorized
May
28
2008
Setelah 10 bulan Phoenix akhirnya mendarat di kutub utara Mars. Sepanjang itu juga ‘kegatelan’ manusia ingin mencari tahu tanda- tanda kehidupan dimulai. Lalu bisakah aku meminjam Laboratorium Jet propulsion milik NASA itu untuk memantau bagaimana keadaan anak bungsuku selama tiga bulan terakhir? Mungkin aku harus mengasah kecepatan telepatiku melebihi 13 ribu mil per jam, tak perlu memakai parasut atau roket untuk memperlambat gerakan itu sampai aku bisa mencium kapalanya.
kakiku seharusnya bisa melesatkan pesan secepat roket buatan Amerika tersebut, kemudian saat dahi merapat melakukan manuver di ujung sajadah, tabung pembuangan gas menghembuskan nafas cinta, membayangkan tangan kecilnya sedang menggenggam jari telunjuk. Di saat itulah sebuah planet menjadi berarti buatku, bukan hanya Mars, Pluto, atau Saturnus, planet baru yang masih berbentuk gugusan bintang pun akan bisa memunculkan tanda-tanda kehidupan.
28 Mei 2008
One Stop Entries, Frappuccino yang tak tersentuh,Mng Bag, dedaunan bercinta dengan gravitasi bumi
2 comments | posted in Uncategorized
May
28
2008
Ketika mentari melarikan diri di batas senja, sapuan warna gelap cakrawala menjelaskan ordinat bumi, ia sedang tenggelam di barat, sisa cahaya membuat gegaris lurus ke atas langit, bagai tangan futuristic robotic bersegi-segi tanpa tekstur.
Tali pinggang Esprit melilit di pinggang, berusaha menyembunyikan mother tummy di balik black jeans , sepotong jam tangan menunjukkan waktu menjelang Magrib, mata terlalu dini ingin terpejam. Menunggu azan tiba aku mengkhayal kangen tentangnya.
Tiba-tiba terdengar bisikan “ I miss you…” Benarkah? Suara itu?
Aku mencari sumbernya, ” Ai miauuu… ai mauuu”
Kucingku baru saja menebar pesona, berjalan elegan menuju matras mini. Ia kemudian tidur pulas di ruang kerja, nafasnya naik turun tenang, melihat seekor hewan kecil dengan ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa tiba-tiba aku merindukan nuansa itu untuk diriku sendiri… aku ‘nappy’ di sofa, tidur menyamping kanan meniru tidur sang Budha, kemudian menenggelamkan diri sambil berdzikir…
I miss you… ai miauuu …Dor! Aku mati lagi…
26 Mei 2008
Sarah Brighmant, Eden,
Kemudian tenggelam usai azan Isya.
2 comments | posted in Uncategorized
May
28
2008
Tanganku meraba tempat tidur yang biasa kita baringkan, meraba setiap lengkungannya. Tanpa berani menyentuh matras lembut yang beralaskan bedcover bermotif daun hijau tosca.Aku tak berani membaringkan tubuhku di sana membayangkan semua kata-katamu yang mampu menghentikan semua mahluk bernafas di bumi.
Ujung jemari menyentuh mukena yang tersusun rapi di almari, merabanya dari ujung kiri ke kanan, membayangkan dua tubuh kita bersejajar tipis di atas sejadah di bawah jendela. Aku bermunajat suaramu lirih berharap pada-Nya, amin…amin ya Allah. Aku mencium tanganmu menaruh hormat, dan bibir lembutmu mencium dahi.
“Rrrr, rrrr, rrrr.” Handphone bergetar…
“Aku sudah memasang detonator di handphone adikmu. Keluar dari sana atau aku akan meledakkan reaktor nuklir di rumahmu, biar semua tahu bahwa engkau seorang lesbian!”
“ Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!, aku mati lagi.”
Air mata mengkafaniku sepanjang malam. Kepedihan mengantarku sampai kekuburan.
24 Maret 2008
Deretan pencakar langit, pendar lampu blackberry, The Amber Spyglass,
Genuine Leather Fossil berisikan lembaran pecahan beberapa ratus ribu. Mendarat di matras
berbulu angsa, hotel human touch yang membuatku merasa sangat nyaman setelahnya.
2 comments | posted in Uncategorized
May
28
2008
Aku berkelana ribuan kilometer. Ia meraung-raungkan gas berkecepatan tinggi, membawa dua mata lelah ke dalam khayalan tentangmu, rumah dan anak. Ia menurunkanku di antara caruk datar lengkung bumi yang ditumbuhi rumput hitam keras tempat mulus untuk mendarat. Aku melihat bayangmu melambai di antara kerumunan, dan supir menjemput seonggok koper dan diriku dalam kebahagiaan yang tak tersambut. Di sana tangan kita bergenggaman dalam khayalku yang luar biasa.
Aku terduduk diam berdzikir di dalam silver bird menuju rumah yang bernuansa hijau, namun mengapa redup? Mati dan gelap. Di mana tawa kita berdua yang terhambur di atas sofa, mana jeritan syahdu buah hati kecil kita. Tak ada rangkulan selamat datang, hanya makian amarah yang terdengar dari hand set telepon rumah. Langit berduka, dan dor! Aku mati lagi.
23 Mei 2008
Menatap rumput, melamun ka’bah
Menghapus riak ombak mata di antara gate belakang rumah
Ada jemuran, pohon palem, dan perdu kecil.
2 comments | posted in Uncategorized
May
28
2008
Pembalasan bertubi-tubi itu menyakitkan, bagai merasakan hantaman pesawat gagal take off, bagai melihat tubuh papa di bawah gedung bertingkat yang rubuh akibat earthquake, bagai sosok korban tsunami yang menggelembung hitam dan menegang di bawah terik mentari di antara tubuh-tubuh malang lainnya. Lalu kapan amarah dalam dirimu berhenti? Tidakkah nurani terhujam pedang tajam ketika melihat semua gejala alam tersebut? Sadarkan bahwa tubuh yang sedang bertaubat ini hanyalah tulang-belulang yang dibungkus seonggok daging? Kekasihku…berhentilah membalas rasa sakitmu…karena aku sudah mati berkali-kali.
19 Mei 2008
Bersandar di titik ikhlas ketika rintik
hujan, di kawasan timur belantara kota, sesekali hati mengintip Philip Pullmann
2 comments | posted in Uncategorized